Oleh: Usman Buamona S.Pd,.M.Sos
OPINI- Kabar meninggalnya Taufik Kailul di balik jeruji besi sungguh mengguncang hati nurani saya.
Betapa pilu rasanya mengetahui bahwa seseorang harus kehilangan nyawa bukan semata-mata karena hukum yang dijalankan, melainkan akibat kurangnya empati dan kemanusiaan dalam proses penegakan hukum itu sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saya membayangkan bagaimana perasaan keluarga Taufik yang telah berusaha keras mengajukan permohonan agar ia bisa mendapatkan perawatan medis yang layak.
Namun, harapan mereka pupus ketika surat permohonan tersebut tidak mendapat persetujuan dari jaksa.
Di saat-saat genting, ketika nyawa seseorang dipertaruhkan, keputusan untuk menunda atau bahkan menolak akses terhadap pengobatan seolah menjadi vonis tambahan yang tak tertulis.
Bukankah setiap manusia berhak mendapatkan perlakuan yang adil dan penuh rasa kemanusiaan, terlepas dari status hukumnya?
Rasa sedih ini semakin mendalam ketika menyadari bahwa sistem yang seharusnya melindungi justru abai terhadap hak-hak dasar seorang tahanan.
Taufik bukan hanya kehilangan kebebasan, tetapi juga kesempatan untuk bertahan hidup.
Tragedi ini seharusnya menjadi refleksi bagi kita semua, terutama para penegak hukum, agar lebih mengedepankan hati nurani dan nilai-nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas.
Jangan sampai ada lagi korban-korban lain yang harus meregang nyawa karena kelalaian dan kurangnya kepedulian.
Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga, agar keadilan benar-benar hadir untuk semua, tanpa terkecuali.







