SANANA,Lokomalut.com- Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI Provinsi Maluku Utara, menggelar kegiatan Festival Budaya.
Kegiatan tersebut berlangsung di halaman Benteng De Verwacthing Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, pada kamis (27/11/2025).
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya (Kadisparbud) Ismail Soamole mengatakan, keberagaman ini bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi merupakan jati diri dan identitas kita sebagai bangsa yang besar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Indonesia adalah negara dengan kekayaan budaya yang beragam, dari Sabang sampai Merauke. Keberagaman ini bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi merupakan jati diri dan identitas kita sebagai bangsa yang besar. Namun, di tengah gempuran arus modernisasi dan budaya global, upaya untuk melestarikan dan memajukan kebudayaan perlu menjadi perhatian dan mendesak,” ujarnya.
Dengan begitu, Ismail menegaskan, pemajuan kebudayaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi kewajiban seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda yang terhimpun dalam komunitas-komunitas budaya.
“Tujuannya jelas, yaitu untuk mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, memperkaya keberagaman, dan pada akhirnya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memperteguh persatuan dan kesatuan bangsa,” ungkapnya.
Ia bilang, melalui kegiatan Festival Budaya Lokal ini, seluruh masyarakat Kepulauan Sula berkesempatan untuk mengenal kembali dan mempelajari kekayaan budaya daerah.
“Seperti halnya hari ini dilakukan workshop pembutan kuliner pola. Sebagai informasi bahwa kuliner pola Adalah kearifan lokal kit pia sua di masa lalu dan sampai hari ini hamper punah namun yang menjadi kebanggaan bagi kita bahwa Kuliner pola sudah terdaftar sebagai salah satu warisan Budaya Nasional dari Kepulauan Sula,” imbuhnya.
Menurutnya, hal ini seharusnya dijadikan wadah bagi para pelaku seni dan kekayaan tradisi, untuk menampilkan karyanya, sekaligus mempromosi kekayaan yang budaya kita miliki.
“Membangun sinergi antara pemerintah, masyarakat, pelaku UMKM, dan pelaku seni budaya dalam mewujudkan ekosistem budaya yang kolaboratif,” tuturnya.
Ismail mengajak seluruh masyarakat Kepulauan Sula, untuk tidak hanya menjadi penikmat pasif, tetapi menjadi bagian aktif dari gerakan pemajuan kebudayaan tersebut.
“Mari kita hilangkan anggapan bahwa budaya daerah itu tidak “gaul” atau kuno. Justru sebaliknya, mari kita berkreasi, padukan kearifan daerah dengan sentuhan modern, dan jadikan warisan leluhur kita tetap relevan di setiap zaman. Dengan semangat kebersamaan dan Cinta akan Budaya di negeri yang kita cintai ini, saya berharap acara ini dapat berjalan dengan sukses dan memberikan manfaat nyata bagi pelestarian budaya kita,” pungkasnya. (red)







