Cerita Anak Nelayan Tanamkan Mimpi Menjadi Pemain Bola Profesional

- Wartawan

Jumat, 28 November 2025 - 18:05 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dokumentasi: Rido Rustam, salah satu pemain Persihalbar yang terpilih pada tahun 2025.

Dokumentasi: Rido Rustam, salah satu pemain Persihalbar yang terpilih pada tahun 2025.

JAILOLO,Lokomalut.com- Namanya Rido Rustam. Ia adalah seorang anak nelayan yang bercita-cita menjadi pemain bola Profesional.

Menjadi seorang pesepak bola adalah seringkali memiliki kisah perjuangan dan kegigihan untuk menggapai mimpi tersebut.

Rido Rustam merupakan anak laki laki dari dua bersaudara perempuan, yakni Safira Rustam dan Safina Rustam. Mereka adalah anak dari bapak Rustam dan ibu Suharni.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedua pasangan suami istri yang merupakan orang tua kandung Rido Rustam, ayahnya memiliki pekerjaan sebagai Nelayan sementara ibunya memiliki pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT).

Rido Rustam lahir di Desa Saria, pada 17 Mei 2009, memiliki minat dan bakat dalam dunia sepak bola, yang berposisi sebagai penyerang. Selain itu, Rido Rustam merupakan alumni lulusan dari sekolah Dasar (SD) Negeri 13 Halmahera Barat di Desa Saria.

Rido juga salah satu pemain Persihalbar yang terpilih pada tahun 2025. Kedua orang tua sangat mendukung untuk terus mengejar prestasi dalam dunia sepak bola.

Kepada media ini, Rido mengaku bahwa dirinya mengenal sepak bola sejak usia dini, dan kedua orang tua tentunya sangat mendukung dirinya untuk menjadi pesepak bola.

“Papa dan mama sangat mendukung dan support saya bermain bola, tentu sebagai orang tua pasti selalu memberikan dukungan melalui doa untuk saya, dan orang saria mengenal sepak bola sejak usia dini, termasuk saya sendiri,” katanya.

Rido mengisahkan, bahwa di Desa Saria tidak memiliki lapangan sepak bola, mereka memanfaatkan lahan kosong untuk menjadikan lapangan sebagai tempat untuk berlatih.

“Di Desa Saria, tempat kelahiran saya tidak ada lapangan, jadi lahan kosong itu kami jadikan sebagai lapangan untuk bermain bola, dan lapangan begitu sempit dan tidak memiliki rumput, itu kami jadikan tempat untuk berlatih,” ungkapnya.

Rido menyebut, bahwa dari lapangan yang penuh kerikil, dan tanah yang keras tanpa rumput melahirkan banyak pemain muda.

“Lapangan tidak ada rumput penuh batu kerikil, tetapi banyak melahirkan pemain sepak bola baik di usia dini, sampai pada usia 40 tahun pun masih bermain bola, saya tidak habis pikir tentang sepak bola di Desa Saria,” tuturnya.

Rido bilang, Turnamen yang diselenggarakan di Halmahera Barat, Desa Saria terus ikutserta dalam turnamen, untuk berpartisipasi. Selain meraih sebuah prestasi.

“Banyak turnamen yang kami partisipasi sejak saya masih kecil sering menonton senior senior kami bermain bola untuk berpartisipasi di setiap turnamen bahkan bukan hanya satu tim saja, tetapi tiga sampai empat tim yang kami keluar, karena banyak pemain,” imbuhnya.

Menurut Mat biasa disapa, dirinya banyak belajar tentang sepak bola dan pengalaman dari senioritas, mulai dari Disiplin waktu, Disiplin latihan, menunjukan Attitude kepada pelatih dan senioritas, bahkan kekompakan didalam dan diluar lapangan, selalu dijaga.

“Saya banyak belajar dari senioritas mulai dari disipilin waktu untuk latihan, kekompakan tim, menjaga Attitude didalam dan diluar lapangan, itu menjadi pesan moral untuk kami semua agar kebersamaan dapat selalu terjaga,” ucap Mat.

Mat menambahkan, selain dukungan orang tua, pemain bola di Desa Saria juga dapat dukungan penuh oleh masyarakat di Desa Saria secara keseluruhan.

“Seluruh Masyarakat di Kampung saya sangat mendukung kami saat bermain bola baik dari pemain usia dini bahkan sampai pada tingkat dewasa pun mereka sangat mendukung, semangat dan kecintaan mereka sangat tinggi, terhadap kami,”tukasnya.

“Dukungan mereka adalah membangkitkan semangat kami, semangat generasi muda di Desa Saria dalam mengejar prestasi dan mengharumkan nama tempat kelahiran,” akunya.

Harapan menjadi pemain profesional, kata Mat tentunya mimpi besar semua pesepak untuk bermain pada level yang lebih tinggi,

“Saya, bahkan semua pesepak bola terutama generasi muda tentunya sangat berambisi untuk menjadi pemain profesional dan bisa tampil pada level yang lebih tinggi, bahkan bisa bergabung menjadi pemain yang membela tim Nasional (Timnas) Indonesia,” harapnya.

“Semua diusahakan dan kerja keras,serta berdoa kepada Allah SWT dan meminta restu kepada orang tua, selebihnya kita terus berlatih, terus mengejar prestasi,” tutupnya.

 

Penulis: Iky

ARTIKEL TERKAIT

Warga Desa Naflow Menerima Bantuan Beras dari Bulog
Dukung Program Pempus, Pemda Sula Hadiri FGD Hilirisasi Kelapa di Ternate
Gelar Festival Budaya, ini yang Disampaikan Kadisparbud Sula
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI Malut, Hadiri Festival Budaya 
Jadi Camat Mangoli Timur, Kisman Duwila Fungsikan Rumdis Camat di Desa Waitina
Polres Sula Berhasil Tangkap 4 Orang Terduga Pelaku Pengeroyokan di Mangoli
Pemuda Desa Kou Koma Usai Diduga Dikeroyok OTK di Desa Mangoli, Keluarga: Kapolres Segera Tangkap Pelaku Secepatnya 1×24 Jam
Korbankan Nyawa dan Darah untuk Selamatkan Talaga Rano
Berita ini 134 kali dibaca

ARTIKEL TERKAIT

Sabtu, 29 November 2025 - 09:40 WIT

Warga Desa Naflow Menerima Bantuan Beras dari Bulog

Jumat, 28 November 2025 - 18:05 WIT

Cerita Anak Nelayan Tanamkan Mimpi Menjadi Pemain Bola Profesional

Kamis, 27 November 2025 - 15:46 WIT

Dukung Program Pempus, Pemda Sula Hadiri FGD Hilirisasi Kelapa di Ternate

Kamis, 27 November 2025 - 03:50 WIT

Gelar Festival Budaya, ini yang Disampaikan Kadisparbud Sula

Kamis, 27 November 2025 - 03:42 WIT

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI Malut, Hadiri Festival Budaya 

ARTIKEL TERBARU

Dokumentasi: Warga Desa Naflow Menerima Bantuan dari Perum Bulog Maluku Utara.

Daerah

Warga Desa Naflow Menerima Bantuan Beras dari Bulog

Sabtu, 29 Nov 2025 - 09:40 WIT