TERNATE,Lokomalut.com- Kongres ke-IV Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (HPMS) yang digelar pada Senin 12 Januari 2026 di Kota Ternate, kini berada di ambang krisis legitimasi.
Aroma busuk kian menyengat dari balik proses penyelenggaraan kongres yang diduga kuat telah disusupi kepentingan politik praktis dan dikendalikan oleh segelintir elite yang ingin memaksakan aklamasi terhadap Iqbal Ruray sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) HPMS.
Sejumlah kader dan peserta kongres secara terbuka menyebut bahwa kongres ini bukan lagi arena demokrasi mahasiswa, melainkan panggung sandiwara politik yang diskenariokan secara rapi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Panitia pelaksana dituding telah berperan sebagai “operator politik”, bukan sebagai penyelenggara independen.
“Ini bukan kongres, ini dagelan politik. Semua tahapan sudah diatur untuk satu nama. Bau setingannya sangat menyengat,” tegas seorang peserta kongres yang enggan disebut namanya.
Dugaan kecurangan tidak berhenti pada satu titik. Manipulasi mekanisme pencalonan, pengaburan aturan organisasi, hingga pengondisian forum disebut menjadi alat utama untuk menggiring kongres menuju aklamasi paksa.
Situasi ini memantik kemarahan kader-kader HPMS yang menilai organisasi mereka telah dibajak secara terang-terangan.
Lebih parah lagi, kehadiran Iqbal Ruray sebagai kandidat disebut bukan lahir dari proses kaderisasi yang sehat, melainkan hasil kompromi kepentingan politik di luar tubuh HPMS. Kondisi ini dinilai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap ruh gerakan mahasiswa.
“HPMS bukan tempat parkir kepentingan partai. Kalau organisasi mahasiswa dipimpin oleh orang partai, ini bukan sekadar aneh, ini penghinaan terhadap akal sehat dan sejarah perjuangan HPMS,” kecam sumber tersebut.
Sejumlah pihak menilai panitia kongres telah menjadikan HPMS sebagai alat tawar-menawar politik. Organisasi yang seharusnya menjadi ruang kritis dan independen justru direduksi menjadi kendaraan kekuasaan.
“HPMS hari ini dipaksa berubah menjadi partai politik mini. Panitia harus bertanggung jawab penuh atas kekacauan ini. Kalau dibiarkan, kongres ini akan tercatat sebagai yang paling memalukan dalam sejarah HPMS,” tambahnya dengan nada geram.
Gelombang penolakan terhadap aklamasi ini terus menguat. Beberapa peserta bahkan mengancam akan walk out, memboikot kongres, hingga mendeklarasikan mosi tidak percaya terhadap panitia pelaksana apabila praktik busuk ini tetap dipaksakan.
“Jika skenario kotor ini benar-benar dijalankan, maka Kongres IV HPMS bukan hanya kehilangan legitimasi, tetapi juga menjadi simbol matinya demokrasi internal dan independensi gerakan mahasiswa Kepulauan Sula,” pungkasnya. (red)










