Kisruh Musda HIPMI Maluku Utara: Dua Ketua, Dua Forum, dan Satu Sumber Masala Ketidakcakapan dan Ketidaknetralan OKK

- Wartawan

Rabu, 3 Desember 2025 - 06:09 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dokumentasi: Firman Laduane, Mantan Sekretaris Umum HIPMI Morotai.

Dokumentasi: Firman Laduane, Mantan Sekretaris Umum HIPMI Morotai.

Firman Laduane, Mantan Sekretaris Umum HIPMI Morotai.Oleh: Firman Laduane, Mantan Sekretaris Umum HIPMI Morotai.

OPINI- Musyawarah Daerah (Musda) HIPMI Provinsi Maluku Utara, yang digelar pada 1 November, seharusnya menjadi panggung konsolidasi para pengusaha muda.

Tetapi realitas yang muncul justru memperlihatkan kekacauan paling serius dalam sejarah organisasi ini di Maluku Utara. Dua forum pleno, dua hasil, dua ketua, dan satu pertanyaan besar: di mana sebenarnya letak masalahnya?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Firman Laduane, mantan Sekretaris Umum BPC HIPMI Kabupaten Pulau Morotai periode 2021–2024, saya menilai bahwa akar dari seluruh kekacauan ini dapat ditarik pada satu titik: ketidakcakapan dan dugaan ketidaknetralan Ketua OKK BPD HIPMI Maluku Utara.

Pleno Pertama Mandek:

Awal dari Kekacauan Pada hari pembukaan Musda, verifikasi kepesertaan dalam pleno pertama justru berubah menjadi arena konflik. Beberapa BPC dinyatakan bermasalah secara administratif. Di sinilah seharusnya peran OKK diuji. Namun yang terjadi justru forum mandek total. Tidak ada keputusan, tidak ada solusi, dan tidak ada ketegasan.

Suatu pleno yang macet hanya berarti satu: panitia tidak siap, tidak profesional, atau tidak netral?

Keesokan Harinya: Dua Forum – Dua Ketua – Dua Legitimasi karena kebuntuan tidak pernah diselesaikan, muncul dua forum pleno secara paralel:

Forum pertama (5 BPC) → Menetapkan Rio Christian Pawane sebagai ketua.

Forum kedua (5 BPC lainnya) → Menetapkan Firdaus Amir sebagai ketua.

Ini bukan sekadar perbedaan pilihan. Ini adalah bukti terang-benderang bahwa struktur organisasi kehilangan kendali total. HIPMI Maluku Utara kini memiliki dua ketua dengan legitimasi setara, dan ini hanya mungkin terjadi jika mekanisme resmi organisasi tidak dijalankan sejak awal.

Preseden Morotai:

Kesalahan Lama yang Dibiarkan Berulang Kisruh Musda ini tidak berdiri sendiri. Ia mengikuti pola yang sama dengan kisruh Muscab di Kabupaten Pulau Morotai beberapa bulan sebelumnya.

Dalam AD/ART HIPMI ditegaskan: Calon ketua wajib merupakan pengurus atau mantan pengurus.

Namun OKK BPD HIPMI Maluku Utara justru meloloskan ketua terpilih yang bukan mantan pengurus. Bahkan yang lebih fatal, ketika BPC dibekukan, OKK menunjuk kepanitiaan Muscab yang bukan berasal dari pengurus maupun anggota HIPMI. Dengan kata lain, forum resmi organisasi diberikan kepada orang-orang yang bahkan bukan kader HIPMI.

Jika pelanggaran seberat ini bisa terjadi tanpa koreksi, maka sangat masuk akal jika kekacauan di Musda kembali muncul.

Dua Sumber Masalah:

Tidak Cakap atau Tidak Netral Melihat seluruh rangkaian peristiwa, saya menilai ada dua kemungkinan yang sangat kuat:

1. Ketua OKK memang tidak cakap mengelola prosedur organisasi.

Gagal memetakan peserta sah, gagal menyelesaikan verifikasi, gagal mengawal Muscab dan Musda.

2. Atau, Ketua OKK tidak netral sejak awal.

Ada indikasi kuat bahwa sejak tahapan Muscab, mekanisme organisasi telah diarahkan untuk menguntungkan salah satu calon. Pelanggaran prosedur yang berulang menunjukkan adanya pola, bukan kebetulan.

Jika OKK benar-benar netral, maka verifikasi di pleno pertama harusnya selesai dalam beberapa jam. Bukan berujung kebuntuan yang kemudian memecah forum menjadi dua.

HIPMI Tidak Boleh Dibajak oleh Ketidakprofesionalan.

HIPMI adalah organisasi strategis yang melahirkan pengusaha, politisi, dan pemimpin masa depan. Tidak ada ruang untuk organisasi besar dikelola dengan cara-cara seperti ini.

Melanggar AD/ART, mengangkat panitia dari luar organisasi, membiarkan pleno mandek, dan berpura-pura tidak melihat potensi konflik yang meletup.

Jika pola buruk ini tidak dihentikan, maka HIPMI Maluku Utara akan kehilangan wibawa, kepercayaan publik, dan legitimasinya di mata kader sendiri.

Saatnya Bersikap Tegas.

Kisruh dua ketua bukan gejala kecil—ini adalah alarm keras. HIPMI Maluku Utara tidak sedang membutuhkan kompromi dangkal, tetapi: audit organisasi atas seluruh proses Muscab dan Musda, koreksi struktural pada fungsi OKK, dan jaminan bahwa pemilihan ketua harus kembali ke rel AD/ART.

Karena organisasi yang dibangun oleh ribuan pengusaha muda tidak boleh rusak hanya karena ketidakcakapan atau keberpihakan satu orang di dalam struktur kepengurusan.

ARTIKEL TERKAIT

Menjadi Ancaman, Tim Volly Negeri Senapan Taklukkan Tim Halsel 
Tim Volly Kepulauan Sula, Tumbangkan Tim Kota Tidore di Porprov V Malut
Kontingen Porprov Kepulauan Sula, Tiba di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate
Resmi Lepas Kontingen Porprov, Eta Sua Optimis Juara
Terbaik.!! Pemda Sula Beri Kejutan untuk HUT Kabupaten ke-23
Terima Bansos dari Pempus, Pj. Kades Dofa Ucapkan Terima Kasih kepada Presiden RI
Sambut Kedatangan Masyarakat, Bupati Sula: Kehadiran Bapak Ibu Merupakan Kehormatan Bagi Kami 
Peduli kepada yang Membutuhkan, Bupati Sula Santuni 40 Anak Yatim 
Berita ini 214 kali dibaca

ARTIKEL TERKAIT

Senin, 8 Juni 2026 - 02:26 WIT

Menjadi Ancaman, Tim Volly Negeri Senapan Taklukkan Tim Halsel 

Minggu, 7 Juni 2026 - 08:25 WIT

Tim Volly Kepulauan Sula, Tumbangkan Tim Kota Tidore di Porprov V Malut

Minggu, 7 Juni 2026 - 00:58 WIT

Kontingen Porprov Kepulauan Sula, Tiba di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate

Sabtu, 6 Juni 2026 - 13:49 WIT

Resmi Lepas Kontingen Porprov, Eta Sua Optimis Juara

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:46 WIT

Terbaik.!! Pemda Sula Beri Kejutan untuk HUT Kabupaten ke-23

ARTIKEL TERBARU

Dok: Pose Bersama Usai Kegiatan Pelepasan.

Daerah

Resmi Lepas Kontingen Porprov, Eta Sua Optimis Juara

Sabtu, 6 Jun 2026 - 13:49 WIT